Home » Kisah Nabi dan Rasul
Showing posts with label Kisah Nabi dan Rasul. Show all posts
Showing posts with label Kisah Nabi dan Rasul. Show all posts
Kisah Teladan Islami: Sayidatina Fatimah
Kisah Teladan Islami: Sayidatina Fatimah | Dia besar dalam suasana
kesusahan. Ibundanya pergi ketika usianya terlalu muda dan masih
memerlukan kasih sayang seorang ibu. Sejak itu, dialah yang mengambil
alih tugas mengurus rumahtangga seperti memasak, mencuci dan menguruskan
keperluan ayahandanya.
Di balik kesibukan itu, dia juga adalah seorang yang paling kuat beribadah. Keletihan yang ditanggung akibat seharian bekerja menggantikan tugas ibunya yang telah pergi itu, tidak pula menghalang Sayidatina Fatimah daripada bermunajah dan beribadah kepada Allah S.W.T. Malam- malam yang dilalui, diisi dengan tahajud, zikir dan siangnya pula dengan sholat, puasa, membaca Al Quran dan lain-lain. Setiap hari, suara halusnya mengalunkan irama Al Quran.Di waktu umurnya mencapai 18 tahun, dia dikawinkan dengan pemuda yang sangat miskin hidupnya. Bahkan karena kemiskinan itu, untuk membayar mas kawin pun suaminya tidak mampu lalu dibantu oleh Rasulullah S.A.W.
Setelah berkawin kehidupannya berjalan dalam suasana yang amat sederhana, gigih dan penuh ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Digelari Singa Allah, suaminya Sayidina Ali merupakan orang kepercayaan Rasulullah SAW yang diamanahkan untuk berada di barisan depan dalam tentera Islam. Maka dari itu, seringlah Sayidatina Fatimah ditinggalkan oleh suaminya yang pergi berperang untuk berbulan-bulan lamanya. Namun dia tetap ridho dengan suaminya. Isteri mana yang tidak mengharapkan belaian mesra daripada seorang suami. Namun bagi Sayidatina Fatimah r.ha, saat-saat berjauhan dengan suami adalah satu kesempatan berdampingan dengan Allah S.W.T untuk mencari kasih-Nya, melalui ibadah-ibadah yang dibangunkan.
Sepanjang pemergian Sayidina Ali itu, hanya anak-anak yang masih kecil menjadi temannya. Nafkah untuk dirinya dan anak-anaknya Hassan, Hussin, Muhsin, Zainab dan Umi Kalsum diusahakan sendiri. Untuk mendapatkan air, berjalanlah dia sejauh hampir dua batu dan mengambilnya dari sumur yang 40 hasta dalamnya, di tengah teriknya matahari padang pasir.
Kadangkala dia lapar sepanjang hari. Sering dia berpuasa dan tubuhnya sangat kurus hingga menampakkan tulang di dadanya.
Pernah suatu hari, ketika dia sedang tekun bekerja di sisi batu pengisar gandum, Rasulullah datang berkunjung ke rumahnya. Sayidatina Fatimah yang amat keletihan ketika itu lalu meceritakan kesusahan hidupnya itu kepada Rasulullah S.A.W. Betapa dirinya sangat letih bekerja, mengangkat air, memasak serta merawat anak-anak. Dia berharap agar Rasulullah dapat menyampaikan kepada Sayidina Ali,kalau mungkin boleh disediakan untuknya seorang pembantu rumah. Rasulullah saw merasa terharu terhadap penanggungan anaknya itu.
Namun baginda amat tahu, sesungguhnya Allah memang menghendaki kesusahan bagi hamba-Nya sewaktu di dunia untuk membeli kesenangan di akhirat. Mereka yang rela bersusah payah dengan ujian di dunia demi mengharapkan keridhoan-Nya, mereka inilah yang mendapat tempat di sisi-Nya. Lalu dibujuknya Fatimah r.ha sambil memberikan harapan dengan janji-janji Allah. Baginda mengajarkan zikir, tahmid dan takbir yang apabila diamalkan, segala penanggungan dan bebanan hidup akan terasa ringan.
Ketaatannya kepada Sayidina Ali menyebabkan Allah S.W.T mengangkat darjatnya. Sayidatina Fatimah tidak pernah mengeluh dengan kekurangan dan kemiskinan keluarga mereka. Tidak juga dia meminta-minta hingga menyusah-nyusahkan suaminya.
Ketaatannya kepada Sayidina Ali menyebabkan Allah S.W.T mengangkat darjatnya. Sayidatina Fatimah tidak pernah mengeluh dengan kekurangan dan kemiskinan keluarga mereka. Tidak juga dia meminta-minta hingga menyusah-nyusahkan suaminya.
Dalam pada itu, kemiskinan tidak menghilang Sayidatina Fatimah untuk selalu bersedekah. Dia tidak sanggup untuk kenyang sendiri apabila ada orang lain yang kelaparan. Dia tidak rela hidup senang dikala orang lain menderita. Bahkan dia tidak pernah membiarkan pengemis melangkah dari pintu rumahnya tanpa memberikan sesuatu meskipun dirinya sendiri sering kelaparan. Memang cocok sekali pasangan Sayidina Ali ini karena Sayidina Ali sendiri lantaran kemurahan hatinya sehingga digelar sebagai ‘Bapa bagi janda dan anak yatim di Madinah.
Namun, pernah suatu hari, Sayidatina Fatimah telah menyebabkan Sayidina Ali tersentuh hati dengan kata-katanya. Menyadari kesalahannya, Sayidatina Fatimah segera meminta maaf berulang-ulang kali.
Ketika dilihatnya raut muka suaminya tidak juga berubah, lalu dengan berlari-lari bersama anaknya mengelilingi Sayidina Ali. Tujuh puluh kali dia ‘tawaf’ sambil merayu-rayu memohon dimaafkan. Melihatkan aksi Sayidatina Fatimah itu, tersenyumlah Sayidina Ali lantas memaafkan isterinya itu.
“Wahai Fatimah, kalaulah dikala itu engkau mati sedang Ali tidak memaafkanmu, niscaya aku tidak akan menyembahyangkan jenazahmu,” Rasulullah SAW memberi nasehat kepada puterinya itu ketika masalah itu sampai ke telinga baginda.
Begitu tinggi kedudukan seorang suami yang ditetapkan Allah S.W.T sebagai pemimpin bagi seorang isteri. Betapa seorang isteri itu perlu berhati-hati dan sopan di saat berhadapan dengan suami. Apa yang dilakukan Sayidatina Fatimah itu bukanlah disengaja. bukan juga dia membentak – bentak, marah-marah, meninggikan suara, bermasam muka, atau lain-lain yang menyusahkan Sayidina Ali k.w. meskipun demikian Rasulullah SAW berkata begitu terhadap Fatimah.
Ketika perang Uhud, Sayidatina Fatimah ikut merawat luka Rasulullah. Dia juga turut bersama Rasulullah semasa peristiwa penawanan Kota Makkah dan ketika ayahandanya mengerjakan ‘Haji Wada’ pada akhir tahun 11 Hijrah. Dalam perjalanan haji terakhir ini Rasulullah SAW telah jatuh sakit. Sayidatina Fatimah tetap di sisi ayahandanya. Ketika itu Rasulullah membisikkan sesuatu ke telinga Fatimah r.ha membuatnya menangis, kemudian Nabi SAW membisikkan sesuatu lagi yang membuatnya tersenyum.
Dia menangis karena ayahandanya telah membisikkan kepadanya berita kematian baginda. Namun, sewaktu ayahandanya menyatakan bahwa dialah orang pertama yang akan berkumpul dengan baginda di alam baqa’, gembiralah hatinya. Sayidatina Fatimah meninggal dunia enam bulan setelah kewafatan Nabi SAW, dalam usia 28 tahun dan dimakamkan di Perkuburan Baqi’, Madinah.
Demikianlah wanita utama, agung dan namanya harum tercatat dalam al-Quran, disusahkan hidupnya oleh Allah S.W.T. Sengaja dibuat begitu oleh Allah kerana Dia tahu bahawa dengan kesusahan itu, hamba-Nya akan lebih hampir kepada-Nya. Begitulah juga dengan kehidupan wanita-wanita agung yang lain. Mereka tidak sempat berlaku sombong serta membangga diri atau bersenang-senang. Sebaliknya, dengan kesusahan-kesusahan itulah mereka dididik oleh Allah untuk senantiasa merasa sabar, ridho, takut dengan dosa, tawadhuk (merendahkan diri), tawakkal dan lain-lain.
Ujian-ujian itulah yang sangat mendidik mereka agar bertaqwa kepada Allah S.W.T. Justru, wanita yang sukses di dunia dan di akhirat adalah wanita yang hatinya dekat dengan Allah, merasa terhibur dalam melakukan ketaatan terhadap-Nya, dan amat bersungguh-sungguh menjauhi larangan-Nya, biarpun diri mereka menderita. Kisah Teladan Islami: Sayidatina Fatimah (Source)
Posted by Sahid Raharjo
at 7:06 AM
Read more
Kisah Teladan Islami: Mimpi Abu Bakar
Kisah Teladan Islami: Mimpi Abu Bakar | Abu Bakar pada masa Jahilayah di kenal sebagai saudagar kaya. Sebagai seorang saudagar,ia serin berpergian ke negeri tetangga menjual dagangannya dan membeli bahan lain untuk kemudian di jual kedaerah lainnya.
Suatu ketika ia berdagang di negeri Syam,berhari-hari ia berada di sana melakukan pekerjaanya.Ketika tidur pada malam hari,ia bermimpi melihat Matahari dan Bulan berada di kamarnya.Dirinya seakan mengambil dan memeluk erat di dadanya dan menutup dengan jubahnya.
Ketika Abu Bakar terbangun dari tidurnya,segera ia mendatangi seorang pendeta Nasrani untuk menanyakan apa arti mimpinya itu,diceritakan bagaimana situasianya saat dirinya dalam mimpi itu. Dan ia sangat berharap pendeta Nasrani itu sapat menafsirkan makna mimpinya itu.
"Anda berasal dari mana?" Tanya pendeta itu.
"Dari Mekkah",jawab Abu Bakar.
"Dari suku apa?"
"Suku Tayyim"
"Pekerjaan anda apa?" "Berdagang"
Suatu ketika ia berdagang di negeri Syam,berhari-hari ia berada di sana melakukan pekerjaanya.Ketika tidur pada malam hari,ia bermimpi melihat Matahari dan Bulan berada di kamarnya.Dirinya seakan mengambil dan memeluk erat di dadanya dan menutup dengan jubahnya. Ketika Abu Bakar terbangun dari tidurnya,segera ia mendatangi seorang pendeta Nasrani untuk menanyakan apa arti mimpinya itu,diceritakan bagaimana situasianya saat dirinya dalam mimpi itu. Dan ia sangat berharap pendeta Nasrani itu sapat menafsirkan makna mimpinya itu.
"Anda berasal dari mana?" Tanya pendeta itu.
"Dari Mekkah",jawab Abu Bakar.
"Dari suku apa?"
"Suku Tayyim"
"Pekerjaan anda apa?" "Berdagang"
Pendeta itu sejenak terdiam,ia memejamkan matanya dan kepalanya terangguk-angguk pelan.
"Akan muncul pada Zaman anda seorang laki-laki dari Bani Hasyim," kata pendeta itu kemudian. Ia bernama Muhammad, yang memiliki julukan Al-Amien. Ia menjadi Nabi terakhir.andaikan ia tak ada,allah tak akan menciptakan langit,Bumi dan isinya.juga andai ia tidak ada,Allah tidak akan menciptakan Adam,para nabi dan para Rasul. Ia sebagai penutup para Nabi.Anda akan menjadi pemeluk agamanya. Anda akan menjadi pembantu dekatnya,Demikianlah tafsir mimpi yg anda alami itu
"Sifat dan ciri laki-laki yang bernama Muhammad itu telah kudapatkan dalam kitab Taurat,Zabur dan Injil,"Sesunguhnya aq telah memeluk Islam untuknya.Akan tetapi ku lakukan dengan sembunyi-sembunyi,karena takut dengan ancaman orng nasrani lainnya".
Mendengar penjelasan pendeta Nasrani,yang menafsirkan arti mimpinya itu Hati Abu Bakar menjadi berdebar-debar,ia ingin sekali bertemu dengan lelaki yang dikatakan pendeta itu.
Cepat-cepat ia kembali ke tempat penginapannya,dan berkemas ke Makkah,Dicarinya lelaki yang bernama Muhammad itu,dan akhirnya ditemukan.
Setelah bertemu,Abu Bakar selalu memperhatikan Nabi Muhammad. Maka Abu Bakar tak ingin berpisah dengan beliau, tak sekejap pun ia melepaskan pandangannya dari Nabi, Hal itu berjalan sampai beberapa hari.
Hingga suatu saat Nabi Muhammad bertanya kepada Abu Bakar"setiap hari kulihat kau datang kepadaku dan duduk bersamaku,serta selalu memperhatikanku.mengapa kau tak masuk Islam?"
"Jika seorng Nabi,tentunya kau memiliki mukjizat, "jawab Abu Bakar mendengar pertanyaan Nabi Muhammad.
"Apa tidak cukup dengan mukjizat yang telah kau lihat dalam mimpimu ketika kau berada di negeri Syam,dan makna mimpimu telah di tafsirkan oleh seorang Pendeta Nasrani yang telah masuk Islam itu?" Kata Nabi Muhammad.
Mendengar ucapan Rasulullah, Abu Bakar langsung menyatakan masuk Islam dan mengucapkan Kalimah syahadat. Kisah Teladan Islami: Mimpi Abu Bakar. (Source)
"Akan muncul pada Zaman anda seorang laki-laki dari Bani Hasyim," kata pendeta itu kemudian. Ia bernama Muhammad, yang memiliki julukan Al-Amien. Ia menjadi Nabi terakhir.andaikan ia tak ada,allah tak akan menciptakan langit,Bumi dan isinya.juga andai ia tidak ada,Allah tidak akan menciptakan Adam,para nabi dan para Rasul. Ia sebagai penutup para Nabi.Anda akan menjadi pemeluk agamanya. Anda akan menjadi pembantu dekatnya,Demikianlah tafsir mimpi yg anda alami itu
"Sifat dan ciri laki-laki yang bernama Muhammad itu telah kudapatkan dalam kitab Taurat,Zabur dan Injil,"Sesunguhnya aq telah memeluk Islam untuknya.Akan tetapi ku lakukan dengan sembunyi-sembunyi,karena takut dengan ancaman orng nasrani lainnya".
Mendengar penjelasan pendeta Nasrani,yang menafsirkan arti mimpinya itu Hati Abu Bakar menjadi berdebar-debar,ia ingin sekali bertemu dengan lelaki yang dikatakan pendeta itu.
Cepat-cepat ia kembali ke tempat penginapannya,dan berkemas ke Makkah,Dicarinya lelaki yang bernama Muhammad itu,dan akhirnya ditemukan.
Setelah bertemu,Abu Bakar selalu memperhatikan Nabi Muhammad. Maka Abu Bakar tak ingin berpisah dengan beliau, tak sekejap pun ia melepaskan pandangannya dari Nabi, Hal itu berjalan sampai beberapa hari.
Hingga suatu saat Nabi Muhammad bertanya kepada Abu Bakar"setiap hari kulihat kau datang kepadaku dan duduk bersamaku,serta selalu memperhatikanku.mengapa kau tak masuk Islam?"
"Jika seorng Nabi,tentunya kau memiliki mukjizat, "jawab Abu Bakar mendengar pertanyaan Nabi Muhammad.
"Apa tidak cukup dengan mukjizat yang telah kau lihat dalam mimpimu ketika kau berada di negeri Syam,dan makna mimpimu telah di tafsirkan oleh seorang Pendeta Nasrani yang telah masuk Islam itu?" Kata Nabi Muhammad.
Mendengar ucapan Rasulullah, Abu Bakar langsung menyatakan masuk Islam dan mengucapkan Kalimah syahadat. Kisah Teladan Islami: Mimpi Abu Bakar. (Source)
Posted by Sahid Raharjo
at 6:40 AM
Read more
Meneladani Perjalanan Hidup Nabi Ibrahim dan Keluarganya
Meneladani Perjalanan Hidup Nabi Ibrahim dan Keluarganya | ada beberapa hal yang sangat penting dari perjalanan hidup nabi Ibrahim a.s, dan keluarganya yang patut kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Istiqomah dalam Beriman kepada Allah.
Kemantapan Nabi Ibrahim a.s, dapat teruji dalam meng-Esakan Allah SWT. Tuhan seru sekalian alam, serta penolakannya terhadap segala macam bentuk kemusyrikan, baik berupa patung-patung, bintang-bintang, bulan dan matahari, bahkan segala sesuatu selain Allah SWT. Oleh karena itu, berkat kemantapan imannya kepada Allah, ia yakin bahwa Allah yang memberi petunjuk bagi kehidupannya. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al-Shaffat ayat 99: “dan Ibrahim berkata: “sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabb-ku, dan ia akan memberi petunjuk kepada ku”.
Maka sebagai umat Nabi Muhammad yang menjunjung nilai-nilai ketauhidan, pantas bagi kita untuk meneladani kemantapan iman Nabi Ibrahim untuk mempersekutukan Allah SWT dengan sesuatu apapun. Hal ini diperjelas di dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat: 123 “kemudian kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah ia termasuk orang-orang yang mepersekutukan Tuhan”.
2. Perhatian dan Keperdulian Terhadap Generasi Penerus Islam.
Sebagai hamba Allah, Nabi Ibrahim merasa sedih, resah dan gelisah, karena pada usia yang telah senja belum dikaruniai seorang anak yang akan mewarisi dan malanjutkan cita-cita dan perjuangannya. Meskipun demikian Nabi Ibrahim tidak pernah putus asa. Bahkan beliu selalu berdoa, “ya Tuhanku karuniakan kepadaku seorang yang shaleh”. Termaktub di dalam Al-Qura’an surat Al-Shaffat ayat 10.
Permintaan Nabi Ibrahim tentang anak ini sangat istimewa. Ia menginginkan anak yang sesuai dengan cita-cita perjuangannya, yakni anak yang shaleh, anak yang mempunyai kepribadian sebagai manusia berakhlaq, beriman dan bertaqwa pada Allah SWT.
Hal ini mengajarkan kepada kita untuk memberikan perhatian dan kepedulian terhadap generasi penerus perjuangan dakwah Islamiyah. Sehingga para orang tua harus mempunyai peran penting, untuk menyiapkan keturunan yang mantap imannya kepada Allah serta mulia akhlaknya. Tidak hanya itu, kita juga harus memperhatikan masyarakat di lingkungan kita. Karena lingkungan masyarakat mempengaruhi perilaku anak-anak kita.
3. Kecintaan dan Kepatuhannya kepada Allah SWT.
Sebelumnya perlu kita ketahui bahwa berkat kesabaran, doa dan tidak putus asa terhadap ujian dari Allah SWT. Nabi Ibrahim yang telah berusia senja akhirnya dikabulkan doanya oleh Allah SWT. Melalui Siti Hajar, istri keduanya, Nabi Ibrahim a.s, dikaruniahi seorang putra yang diberi nama Ismail, si buah hati. Akan tetapi, belum lagi Ismail tumbuh dewasa, keimanan Nabi Ibrahim kembali diuji Allah SWT. Melalui mimpi, Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih Ismail. Terlintas dalam pikirannya, Ismail yang dibayangkan sebagai penerus perjuangannya, harus berakhir diujung pedangnnya sendiri. Orang tua manakah yang sanggup membayangkan tugas semacam itu?
Namun demikian, Nabi Ibrahim menempuh dengan cara-cara yang arif dan bijaksana, Ismail putra kesayangannya dipanggil untuk diperkenalkan pada hakikat hidup, cinta dan kebenaran. Dan Ismail mampu menangkap kegelisahan hati ayahnya. Kepada ayahnya, Ismail memilih kata yang tepat dalam menyatakan pendapat, dan diterangkan di dalam Al-Qur’an surat As Shaaffat ayat 102 yakni “Wahai ayahku, insya Allah engkau akan mendaptiku termasuk orang-orang yang sabar”. Hingga terbuktilah kecintaan dan kepatuhan Nabi Ibrahim a.s kepada Allah dan Allah menganti Nabi Ismail dengan seekor domba yang akhirnya domba itulah yang disembelih.
Hal yang perlu kita perhatikan pada saat ini ialah kita harus bersikap arif dan bijaksana atas setiap ujian yang datang dalam kehidupan kita. Bahkan peristiwa tersebut kita kenal dengan peristiwa qurban. Hal ini yang harus menjadi cerminan hidup kita dalam berkorban. Pengobanan sejati adalah pengobanan yang kita lakukan sebagai bukti kecintaan dan kepatuhan kita kepada Allah SWT, bukan semata karena pujian dari orang lain.
Dalam kehidupan bermasyarakat, nilai pengobanan ini harus selalu terwujud tidak hanya ketika akan hari raya Idul Adha saja. Akan tetapi terus lestari dalam setiap aktifitas sosial kita. Tentunya dengan cara berkorban harta, ilmu, dan tenaga, kepada saudara-saudara disekitar kita yang membutuhkan.
4. Tidak Menjadikan Syaitan sebagai Sahabat.
Pelajaran yang perlu kita ambil dari kehidupan Nabi Ibrahim dan keluarganya adalah tidak kompromi kepada syaitan dengan segala nilai-nilai kebatilan yang dihembuskan dan diajarkannya. Karena itu godaan syaitan harus dihalau dan tidak dituruti, bahkan syaitan harus kita jadikan sebagai musuh abadi yang selalu diwaspadai setiap saat dan tempat, karena itu dalam ibadah haji ada kewajiban melontar yang melambangkan permusuhan kepada syaitan, Allah SWT berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 208: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.
Hal ini mengajarkan kita untuk tetap istiqamah, tidak membenarkan yang salah dan menghalalkan yang haram. Contohnya adalah tindakan merampas hak orang lain, atau tindakan korupsi, itu merupakan perilaku syaitan yang menyesatkan dan berdampak kerugian bagi orang lain, dan jika dilakukan akan menambah tabungan dosa di akhirat kelak.
5. Kepatuhan dan Ketaatan Seorang Anak kepada Allah dan Orang Tuanya.
Kepatuhan dan ketaatan Nabi Ismail inilah yang harus tercermin oleh anak-anak pada zaman sekarang ini. Ia cinta kepada Allah dan cinta pula kepada kedua orang tuanya. Anak-anak zaman sekarang harus mampu berfikir bijak dan memiliki kesadaran diri yang tinggi. Ia paham bahwa ia hanya seorang anak yang dilahirkan dari rahim ibunya, dibesarkan, dibimbing, dan dirawat dengan penuh kasih sayang. Maka sebagai anak kita harus penuh bakti kepada kedua orang tua dan berperilaku sesuai ketentuan Allah SWT. Meneladani Perjalanan Hidup Nabi Ibrahim dan Keluarganya. Source: Buletin da’wah hidayah. Belajar Cinta & Ketaatan Nabi Ibrahim As. Edisi 276/3 dzulhijah 1433 H.
Posted by Sahid Raharjo
at 7:19 AM
Read more
Kematian Raja Namrud Karena Seekor Nyamuk
Kematian Raja Namrud Karena Seekor Nyamuk | Raja Namrud seorang raja Babilonia yang berkuasa dan mengaku dirinya tuhan. Dia sangat membenci Nabi Ibrahim hingga ia berencana untuk membunuhnya. Raja Namrud mempersiapkan 700.000 tentaranya. Dia pun menantang dengan kesembongannya. “Wahai Ibrahim, bukakah tuhanmu memiliki bala tentara? Kerahkan bala tentara itu untuk melawan tentaraku,” kata Raja Namrud.

Tiba-tiba terdengar suara desingan. Raja Namrud dan tentaranya terkejut. Raja Namrud bertanya, “Suara apakah itu?” Nabi Ibrahim menjawab, “itulah bala tentaraku”. Ternyata nyamuk-nyamuk bergerak ke arah tentara Namrud. Pada awalnya, Raja Namrud mentertawakannya karena bala tentara Nabi Ibrahim hanyalah nyamuk. Namun setelah melihat nyamuk dalam jumlah besar, ia menjadi ketakutan.
Nyamuk-nyamuk itu menyerang tentara Namrud. Tentara Namrud berusaha menghalau dan membunuh nyamuk-nyamuk itu. Namun, semua itu sia-sia saja karena jumlah nyamuk itu sangat banyak. Dengan ijin Allah, nyamuk-nyamuk itu menghisap darah bala tentara Namrud. Seluruh darah yang ada di tubuh di hisap hingga tubuhnya hanya tampak tulang. Semua tentara Namrud mati.
Sementara itu, Raja Namrud bersembunyi dalam istananya selama tiga hari. Ia merasa sudah aman dari nyamuk-nyamuk itu. Namun, Raja Nyamuk berhasil menemukannya. Raja Namrud berusaha menghabisi Raja Nyamuk. Akan tetapi ia tidak berhasil. Raja nyamuk masuk ke hidung Namrud. Saat masuk ke dalam kepalanya, Raja Nyamuk menggerogoti otak Namrud. Selama berhari-hari, nyamuk itu berada dalam tubuh Raja Namrud.
Namrud kesakitan tiada terkira. Ia pun meminta istri dan pelanyannya untuk memukul kepalanya dengan sekuat tenaga. Awalnya istri dan pelayannya menolak untuk memukul Raja Namrud. Namun, karena diancam akan di bunuh, merekapun bersedia melakukannya. Dengan sekuat tenaga mereka memukul kepala Raja Namrud. Pemukulan itu telah menyebabkan Raja Namrud mati. Demikanlah, Raja Namrud mati karena kebodohannya sendiri.
Semoga postingan dengan judul Kematian Raja Namrud Karena Seekor Nyamuk dapat memberikan gambaran kepada kita bahwa sekecil atau selemah apa pun hewan ciptaan Allah pastilah ada maksud dan tujuannya. Itu mengingatkan manusia untuk tidak berlaku sombong dan durhaka kepada Allah SWT.
Source: Buletin Dakwah Hidayah Edisi 266/9 Syaban 1433 H.(Source)
Posted by Sahid Raharjo
at 11:24 PM,
Add Comment
Read more
Subscribe to:
Posts (Atom)
